Tidak semua orang pandai ”menulis”,
Sebuah problem yang rasa-rasanya memang sudah tak asing lagi bagi dunia kreativitas seperti menulis. Konon, kebuntuan juga tak hanya dialami para penulis pemula, tapi juga penulis mapan sekalipun. Nah, kebuntuan dalam menulis ini juga kerap disebut orang dengan istilah writer’s block, sebuah masa di mana si penulis tak tahu harus menulis apa lagi, dan menemukan jalan buntu
Apa kira-kira yang jadi sebab datangnya kebuntuan ini? Pasti, setiap penulis punya alasan dan sebab sendiri-sendiri. Meskipun, yang jadi soal kemudian adalah, justru si penulis tak menemukan apa sebetulnya yang jadi sebab dari kebuntuannya itu. Padahal, kalau dia segera tahu apa sebabnya, maka segera pulalah ia mencari solusinya.
Tapi baiklah, mari kita coba urai sejumlah sebab yang secara umum dapat menjadi punca dari timbulnya kebuntuan. Di antaranya, penulis kekurangan bahan untuk menulis. Bahan di sini, bisa berarti kurang mendalam pemahamannya terhadap tema yang ditulis, bisa karena kurangnya referensi-referensi penunjang tema itu.
Solusinya, tentu saja kita harus segera mencari dan menggali dari berbagai sumber yang terkait dengan tema yang akan kita jadikan bahan tulisan. Baik dari buku-buku, majalah-majalah, koran, atau yang sekarang lebih populer sekaligus efektif adalah melalui internet. Jadi, agar tulisan kita berbobot, penting bagi penulis untuk melakukan riset terlebih dahulu. Setelah bahan lengkap, biasanya tak sabar lagi si penulis untuk segera bekerja. Kebuntuan pun segera dapat teratasi.
Sebab lain dari kebuntuan adalah mungkin ada yang salah dari struktur tulisan itu sendiri. Coba baca kembali tulisan yang sudah sempat kita mulai itu tapi buntu di tengah jalan. Baca berkali-kali. Lalu temukan, adakah yang dirasa bertele-tele pembahasannya di setiap paragraf. Jangan-jangan malah keluar dari substansi tema yang telah direncanakan. Membaca berulang-ulang tulisan yang sedang ditulis juga dapat membantu kita untuk melakukan revisi terhadap tulisan tersebut. Proses revisi, menjadi sangat penting agar tulisan kita betul-betul terhindar dari berbagai kesalahan teknis maupun non teknis.
Bicara tentang teknis menulis, ini juga bisa menjadi salah satu sebab munculnya kebuntuan. Misalnya saja kita belum begitu mahir menyusun diksi, karena puisi kita baru beberapa judul saja jumlahnya, sehingga menjadi kesulitan sendiri dalam proses menulis. Begitu pula ketika kita belum mahir/terlatih menuliskan narasi dan deskripsi dalam cerpen, pasti akan jadi kesulitan tersendiri pula. Solusinya, tentu saja terus berlatih menulis, meningkatkan produktivitas dan “jam terbang.”
Selain itu, kebuntuan juga dapat disebabkan dari timbulnya rasa jenuh. Kenapa jenuh? Boleh jadi, karena kita menulis dengan tema yang itu-itu saja. Tokoh yang seragam dalam setiap cerpen kita misalnya. Atau diksi yang tak berkembang dari puisi-puisi kita. Jadi, sebaiknya cari dan terus gali kemungkinan lain dan eksplorasi karya tulis kita itu. Atau, kalau selama ini, kita hanya menulis puisi, coba-cobalah pindah ke genre lain, menulis cerpen, atau prosa, atau novel. Siapa tahu, kita justru menemukan keasyikan lain di sana. Atau sebaliknya, bagi yang biasanya banyak menulis cerpen, cobalah sesekali menulis puisi.
Dari sekian ragam kebuntuan di atas tentu masih banyak lagi jenis-jenis kebuntuan yang lain, dengan solusi-solusi lain. Yang penting, jangan pernah menyerah dan lari dari kebuntuan. Hadapi kebuntuan itu dengan semangat dan motivasi yang kuat untuk menulis. Dan perbarui terus orientasi atau tujuan kita kenapa memilih dunia tulis-menulis. Niscaya, kebuntuan tak lagi jadi hantu yang selalu menakutkan.